Rabu, 11 Februari 2009

ETIKA DI MEJA MAKAN

Sering, kan, Anda diundang menghadiri jamuan makan untuk urusan bisnis? Sudahkah Anda memahami bagaimana harus bersikap di meja makan? Penting, lo, agar rekanan bisnis memiliki kesan baik pada Anda.

Di bawah ini lima cara yang cepat dan mudah untuk diingat mengenai etika di meja makan.

1. Memperkenalkan Sesama Kolega
Untuk memperkenalkan dua orang teman yang tidak saling mengenal pada tempat yang tidak formal pasti lebih mudah dibandingkan di tempat yang lebih formal semisal di seminar atau rapat. Dengan memperkenalkan secara resmi orang-orang yang Anda kenal tetapi di antara mereka belum saling mengenal, suasana kaku dan tak nyaman pun bisa sirna.

Utamakan orang yang lebih tua atau posisinya lebih tinggi. Contohnya, "Pak, perkenalkan Sdr. Putra dari Perusahaan X." Lalu kepada Putra, katakan, "Putra, perkenalkan atasan saya dari Perusahaan Y, Bapak Pangaribuan". Dengan demikian, perkenalan singkat tadi dapat berkembang pada pembicaraan lebih lanjut di antara mereka.

Anda dapat mengganti contoh atasan dan kolega dengan ibu Anda dan teman, atau kakek Anda dengan sahabat Anda. Bila tidak yakin siapa yang harus Anda dahulukan, Anda dapat memilih seseorang yang sepantasnya didahulukan.

2. Berdiri Jika Ada Yang Bangun
Menurut etika, seorang pria sebaiknya berdiri jika rekan semejanya yang berjenis kelamin wanita meninggalkan meja atau kembali ke meja setelah ia dari kamar kecil, misalnya. Hal ini tampak kuno tetapi tetap berlaku untuk masa kini. Kecuali pada acara makan siang bisnis, seorang pria harus berdiri bila seorang wanita yang duduk di meja yang sama, apakah itu istrinya atau orang lain, akan meninggalkan meja ataupun kembali ke meja. Terutama bila wanita tersebut duduk di sebelah Anda. Para wanita menghargai sikap ini. Pada meja yang agak padat, beri ruang pada seorang wanita yang akan duduk ataupun berdiri.

3. Perbaiki Dasi
Walaupun Anda sedang merasa sangat lapar dan ingin segera makan, jangan lupa atur letak dasi sebelum mulai menyantap hidangan sehingga tidak mengganggu saat Anda tengah makan. Jangan letakkan dasi ke belakang bahu karena hal ini tampak tidak sopan dan tidak rapi. Bila tidak mempunyai klip khusus untuk dasi, masukkan sedikit bagian ujung dasi ke dalam kemeja. Serbet juga dapat dipakai untuk menutupi dasi Anda.

4. Cicipi
Ada dua alasan mengapa sebaiknya hal ini dilakukan:
- Anda tidak tahu apakah makanan yang akan dimakan sudah cukup asin atau belum. Jangan rusak acara makan tersebut dengan menambahkan garam pada makanan sebelum Anda tahu pasti apakah makanan tersebut sudah cukup asin atau belum bagi Anda. Karena dengan langsung menambahkan garam tanpa mencicipinya terlebih dahulu dan ternyata makanan tersebut sudah cukup asin, Anda tidak mungkin dapat menghabisi makanan tersebut dan hal ini akan memberi kesan tidak baik.

- Alasan berikut (dan hanya berlaku di pesta makan malam), menambahkan garam pada makanan di piring Anda akan memberi kesan seakan Anda tidak percaya terhadap masakan tuan rumah. Bila ditanya apakah perlu garam, minta garam dan lada, karena garam dan lada selalu berada bersama.

5. Siku Di Meja
Meletakkan siku di meja memang nyaman tetapi hal ini tidak dibenarkan bila Anda melakukannya pada suatu jamuan makan siang atau makan malam. Hal ini memberi kesan tidak sopan. Apalagi bila kemeja yang Anda kenakan berlengan panjang. Bila terkena noda, akan terlihat jelas.

Kapan Anda boleh meletakkan siku di meja makan? Waktu yang tepat adalah di antara dua makanan. Maksudnya, pada waktu selesai menyantap makanan pembuka dan akan masuk ke makanan utama atau pada saat selesai menyantap makanan utama dan akan melahap makanan penutup. Anda dapat relaks sebentar sambil menantikan makanan berikutnya. Atau dapat juga pada saat Anda harus berbicara dengan teman satu meja yang posisinya tak langsung di sebelah Anda. Letakkan siku di atas serbet dan dekatkan posisi Anda dengan lawan bicara sehingga Anda dapat mendengar apa yang dikatakannya, demikian pula sebaliknya.

Bila bicara soal etika, tidak berarti kita sedang membicarakan masalah penampilan yang menarik. Tata krama merupakan cara untuk menghargai orang lain. Dengan memahami etika atau tata krama, sikap kaku dan tak nyaman dapat dihindari. Selain itu, Anda pun terkesan sopan dan amat pantas untuk dihargai. Nah, mulai sekarang, jangan lupa menerapkan 5 aturan dasar tadi dan Anda akan melihat serta menikmati hasilnya.

<>

ETIKA BERTELEPON

Dua hari lalu, iya bener, dua hari lalu, saya dapat dua telepon menjengkelkan di hari yang sama. Makanya, butuh waktu dua hari untuk meredam emosi kqkqkq…sekarang dah bisa ketawa ceria niy…

Kutipan percakapan nya:

-----------

A = Mbak dari sebuah departemen di Hotel ***** (maksudnya hotel berbintang 5. Namanya, lebih baik ga usah disebutkan saja) di Nusa Dua

B = saya

B = Selamat pagi

A = Mbak, punya white orchid?

B = Ga punya, Mbak. Ini dari mana?

A = Dari Hotel XX. Punyanya warna apa?

B = Ungu

A = Ungu? [si mbak nggrundel trus, klik … putus]

B = ???

-----------

A = Salesman dari buku petunjuk telpon XX

B = saya

B = Selamat siang

A = Bu, apa betul ini PT. ABC?

B = Ya, betul, Pak.

A = Begini Bu, saya dari XX. Perusahaan Ibu mendapat gratis 1 tahun beriklan di XX. Bla..bla..bla [menerangkan fasilitas nya]

B = [heran mode on, koq bisa yah…?]

A = Bagaimana Bu, mau diambil?

B = Terima kasih Pak, tidak usah saja, karena PT nya ini belum beroperasi

A = Maksudnya?

B = PT nya belum jalan, belum ada kegiatan.

A = Belum ada kegiatan? [klik … putus]

-----------

Wala..wala…berasa ga sih…kalo digratisin itu menyebalkan….

-----------

Etika Bertelepon di Kantor

Sumber: http://astaga.com/karir/index.php?id=28209&cat=133

Siapapun sudah tau cara menggunakan dan berbicara di telepon. Karena benda yang satu ini memang sangat familiar di antara alat komunikasi lainnya. Tetapi, meskipun berbicara di telepon itu mudah, ada etika dan aturan tersendiri. Anda tidak bisa langsung 'nyerocos' ini itu begitu ada nada 'hallo' di seberang sana.

Sekalipun Anda bukan operator telepon, Anda perlu tau aturan dalam bertelepon ria. Karena apapun pekerjaan Anda, pasti tak terlepas dari urusan telepon bukan? Berikut ini etika bicara di telepon, baik dalam menelepon maupun 'menerima' telepon.

Menelepon

- Ucapkan salam begitu telepon diangkat di seberang sana. Misalnya 'selamat pagi', 'selamat siang', dst. Jangan sampai ketika telepon diangkat Anda langsung pada pembicaraan, seperti "Saya mau membicarakan masalah utang piutang dengan...." Kalau Anda melakukannya Anda bisa dicap nggak sopan.

- Setelah mengucapkan salam, sebutkan identitas diri Anda dengan jelas lalu kemukakan keinginan Anda untuk berbicara dengan orang yang Anda tuju. Misalnya "Saya Rina dari PT. Cipta Bahagia, bisa bicara dengan Ibu Shanty di bagian billing...?" Jangan langsung 'menuduh' "Ini Ibu Shanty ya..?"

- Ucapkan terima kasih jika Anda disuruh menunggu. Jangan menggerutu atau ingin buru-buru, misalnya "Cepetan ya penting nih..!" Jika ternyata orang yang Anda cari tidak ada di tempat, sampaikan keinginan Anda untuk meninggalkan pesan. Sebelumnya tanyakan dulu "Apakah saya bisa meninggalkan pesan..?. Jika bisa, beritahukan pesan Anda dengan jelas. Jangan lupa sebutkan identitas diri Anda sekali lagi, seperti nama, nomor telepon, dan alamat kantor. Kemudian ucapkan terima kasih dan salam untuk mengakhiri pembicaraan.

Menjawab Telepon

- Ucapkan salam begitu Anda mengangkat telepon. Jangan mengangkat telepon setelah lebih dari tiga kali deringan. Kemudian sebutkan nama Anda dan perusahaan. Misalnya, "Selamat siang, PT. Biru Laut dengan Dewi, bisa saya bantu?"

- Bila si penelepon menanyakan keberadaan orang lain, tanyakan terlebih dulu siapa namanya sebelum Anda memberitahukan keberadaan orang yang dicarinya. Seperti, "Maaf dengan siapa saya bicara..?"

- Bila orang yang dituju tidak ada di tempat, beritahukan dengan sopan dan tawarkan padanya untuk meninggalkan pesan. "Maaf Pak Rudi sedang tidak ada di tempat. Anda mau meninggalkan pesan..?" Jika ia meninggalkan pesan, catat isi pesannya dengan jelas. Jangan pernah lupa mencatat nama dan nomor telepon si penelepon.

- Pastikan si penelepon percaya bahwa Anda akan menyampaikan pesannya dengan baik. "Saya akan segera sampaikan pesan Anda.." Kemudian ucapkan salam ketika mengakhiri pembicaraan.

Pada intinya usahakan untuk selalu sopan dalam berbicara di telepon. Ingat, meskipun tidak bertatap muka secara langsung, dari nada dan cara Anda bicara di telepon, orang akan mudah membaca karakter Anda. Maka jangan lupakan etika bertelepon..!

Selasa, 10 Februari 2009

Mencontek karena Pressure

-;Posisi menentukan prestasi-;, saat-saat ujian para siswa berlomba menempati tempat duduk tertentu,dekat dengan murid paling pintar.Ada juga yang menyalin pelajaran di kertas-kertas kecil kemudian diselipkan di tempat tertentu. Berbagai trik dan cara dilakukan untukmencontek.Mengapa mereka melakukannya?

MENCONTEK sebenarnya tidak hanya berupa perilaku meniru jawaban teman sebangku sewaktu ujian. Mencontek dapat dimulai pada usia dinidengan adanya proses imitasi dari orang lain.Anak tidak sekadar meniru pelajaran, tapi juga gaya bicara atau berpakaian.

Adapun mencontek pelajaran di sekolah karena tuntutan yang tinggi. Psikologanak dari UniversitasIndonesiaLuhSurini YuliaSavitri MPsi mengatakan,perilaku mencontek pada anak/siswa bisa disebabkan tuntutan yang terlalu tinggi sehingga anak melakukan segala cara untuk mencapai itu.Anak akan berpikir tidak usah capek belajar dengan melihat jawaban temannya.

-;Perilaku tersebut disebabkan oleh sistem pendidikan lebih ke arahnilai bukan proses belajar.Anak-anak merasa tuntutan yang dibebankanterlalu tinggi sehingga lebih memilih cara mudah untuk mendapatkannilai bagus,-; tutur wanita yang biasa disapa Vivi. Perilaku anak

mencontek bisa juga dilatarbelakangi tuntutan keluarga akan nilai yangbagus. Anak dikatakan berprestasi jika mempunyai peringkat (ranking)yang bagus. Orangtua lebih mementingkan nilai sehingga tidakmemperhatikan proses belajar yang dilewati anak.

-;Ketikaorangtua menuntut seperti ini, anak akan merasa ketakutan ketikanilainya jelek. Akibatnya, anak akan berusaha mendapat nilai tinggimelakukan segala macam upaya termasuk mencontek, -;sebut Vivi. Haltersebut dibenarkan psikolog dari Yayasan Pelangi Anak Indonesia,DraPsi Sandra Talago Msc. Dia mengungkapkan, selain sistem pendidikan yanglebih mementingkan nilai yang bagus atau peringkat yang tinggi.Tuntutan lingkungan yang lebih mementingkan nilai peringkat dan lebih-;diakui-;ketika mendapatkan nilai yang tinggi.

Anak akanmerasakan adanya persaingan sehingga melakukan bermacam cara agarberhasil. -;Misalnya orangtua bertanya; ’Ranking berapa?’ Pertanyaan inisebagai pressure bagi anak. Tidak hanya orangtua, tapi juga lingkungansekolah juga turut membuat anak tertekan,-; lanjut Sandra. Sandramenambahkan, pendidikan yang menerapkan metode tradisional yang lebihmenekankan angka dan hafalan sehingga lebih memudahkan anak untukmencontek.

-;Coba kalau sekolah interaktif yang melatih anakdidiknya untuk menjawab secara lisan.Tentu anak akan semakin sulituntuk mencontek jika dibandingkan dengan jenis soal multiple choiceatausmall essay,-; kata Sandra. Kedua jenis soal itu akan memudahkan anakuntuk mencontek. Ketika anak mencontek dan berhasil, anak akantermotivasi kembali untuk melakukan hal yang sama.

Saat anakmencoba dan berhasil, ada suatu kebanggaan dalam dirinya. Dalam duasampai tiga kali kesempatan akan melakukan hal sama.-;Tapi ini bukansuatu habitual (kebiasaan), anak hanya memanfaatkan kesempatan karenatuntutan yang tinggi,-;kata Vivi. Menurut Sandra, anak akan meningkatrasa percaya dirinya ketika anak berhasil mencontek. -;Untuk itu, anakperlu ditanamkan honesty, reward, dan punishment agar anak menganggap

bahwa nilai bukan segalanya,-; ujar dia.

Perilaku mencontektidak hanya bisa dilihat dari sisi anak didik. Seperti yang diungkapkan Kepala Level 4-6 SD Al Izhar Pondok Labu Dra Prihanti Handayani,perilaku mencontek anak juga bisa menjadi evaluasi bagi guru. -;Anakmencontek juga bisa menjadi feedback guru, ada beberapa bagianpelajaran yang belum dimengerti anak,-; ujar Yani. Mencontek merupakansalah satu bentuk kemalasan karena tidak mempunyai rutinitas belajar,tapi menginginkan nilai yang bagus.

Hargai Proses Belajar

PERILAKU

mencontek tidak akan menjadi suatu kebiasaan saat anak mulai-;terlatih-;.Perilaku ini tidak serta-merta karena pengawasan guru yanglemah, tapi juga dipengaruhi faktor keluarga. Lingkungan keluarga memegang peranan penting karena sebagian waktu anak bersama mereka.

Perilakumencontek bisa dikurangi dengan peranan orangtua. Dengan orangtuamenganggap nilai bukan segalanya akan mengurangi beban anak. Orangtuadiharapkan mendampingi anak dalam belajar. Orangtua memberikanpengertian bahwa mencontek merupakan tindakan yang kurang terpuji.-;Orangtua agar berdialog mengenai konsekuensi yang didapat anak ketikaanak mencontek sehingga anak mengetahui akibat dari perbuatannya,-; kataSandra.

Dengan berdialog akan membantu anak belajar mengenaipemecahan masalah (problem solving).Menumbuhkan pengertian dalam dirianak tidak semua pelajaran dapat dikuasai dengan baik. -;Misalnya anakbagus di pelajaran A,belum tentu bagus juga di pelajaran B.Tanamkankepada anak, mereka punya keunggulan di bidang lain,-; paparnya. Dialogakan bisa menggali lebih dalam tentang mencontek dan menemukan insightanak.

-;Mengajak anak berdialog, misalnya menurutmu kalauberhasil dengan pekerjaan sendiri daripada berhasil dengan meniru,-;sebutnya.Dari proses tersebut sehingga anak akan berpikir mencontekadalah tidak baik. Dra Prihanti Handayani mengingatkan agar bukan hanyaorangtua tapi juga guru. Anak akan lebih dihargai dari prosesnya bukannilai yang didapatkan. -;Tingkatpemahaman dan usaha yang dilakukan anakdidik bukan sekadar orientasi pada nilai,-;paparnya.

Menurut dia,sebaiknya orangtua dan guru tidak menaruh harapan yang terlalu tinggi.Penekanan anak memahami materi yang diberikan melalui pemahamanpelajaran.Pemahaman anak dipengaruhi materi pelajaran, metode yangditerapkan serta evaluasi. Dukungan orangtua juga diperlukan dengamenanamkan nilai kejujuran, tenggang rasa, toleransi, dan normanorma.

-;Kebiasaananak ini didapatkan angka dari lingkungan terdekat dahulu yaitukeluarga.Sekolah menjadi faktor pendukung dari pelajaran yang didapatanak di rumah,-; lanjut Yani. Ketika anak tidak dibebani harus mendapatnilai yang tinggi, tentu anak tidak akan merasa ketakutan. Pemahamanlebih penting bagi anak yang akan dibawa kelak hingga dewasa.Karena

proses tersebut sebagai bekal dalam menyelesaikan masalah kelak.

Berikan Kepercayaan dan Konsekuensi

MENDAPAT

nilai bagus tanpa susah-susah untuk belajar merupakan suatu godaan anakmencontek.Anak yang mencontek akan merasakan perasaan tidak nyaman dan

tidak akan mencoba lagi. Ada juga anak yang tetap melakukan tindakan

tersebut.

Parahnya, ada anak yang memulai untuk mencontek dantidak bisa menghentikannya. Anak yang dipergoki sedang mencontek akanmendapatkan hukuman.-;Anak akan mendapatkan punishment sesuaikesepakatan yang telah disetujui di awal semester,-;ujar Luh SuriniYulia Savitri MPsi.Anak harus menaati peraturan yang telah disepakatibersama dan anak mengetahui konsekuensi akibat mencontek. Diamenyarankan agar anak lebih ditekankan belajar untuk memahami.

-;Orangtua

mendampingi anak saat belajar dan diberi kepercayaan anak akan nyamansemakin memudahkan untuk belajar,-;katanya. Anak akan mendapatkan sanksisesuai perbuatannya seperti pengurangan nilai. Bisa juga anak dipanggilpersonal dan diajak berdialog alasan mencontek.Konsekuensi anak yangmencontek, anak mengulang kembali tes dengan materi yang berbeda.Walaupunanakbarupertama kali mencontek dan ketahuan, anak tetapmendapat sanksi tapi tidak perlu memarahi anak di depan teman-teman sekelas.

-;Ketika memarahi anak di depan kelas, anak akanmenjadi malu.Teguran seperti ini akan menimbulkan masalah baru lagibagi anak,-;lanjut Vivi. Penerapan disiplin ini harus konsisten. Tak

jauh berbeda, Dra Psi Sandra Talago Msc mengatakan, peraturan yangtelah disepakati bersama berarti anak dilibatkan dalam pengambilankeputusan. -;Anak juga belajar bertanggung jawab mengenai kesepakatanyang telah diambil. Jadi bukan sanksi muncul setelah perilaku mencontekmuncul,-;kata Sandra.

Berikan anak kepercayaan untukmenyelesaikan masalahnya. Anak akan belajar menyelesaikan pekerjaannyatidak selalu diingatkan. -;Saat anak sadar telah diberi kepercayaan,anak akan bertanggung jawab tidak selalu diingatkan,-; kata Sandra.Berdasarkan pengalaman Dra Prihanti Handayani dalam mendidik anakdidiknya,ketika mendapati anak mencontek anak diberi soal lain. -;Selainitu,anak dipanggil dan mengerjakan tes sendiri. Anak diharuskanmengulang ujian kembali dengan mengerjakan soal di tempat lain,-;ujar’

Yani. sumber :(hendrati hapsari)

MENGATASI ANAK YANG SUKA MENCONTEK

Mencontek adalah perbuatan tidak jujur,dimana seseorang mencuri dari orang lain dengan cara yang tidak terpuji. Alloh SWT menyuruh hambanya bersikap jujur dan menjauhkan diri dari kebohongan. Mencontek dilarang karena bersikap tidak adil pada diri sendiri dan temannya.

Mencontek ditingkat sekolah dasar harus ditangani dengan serius karena hal itu bukan hal wajar untuk anak seusianya. Tugas sekolah jangan terlalu sulit dan pada umumnya anak-anak sangat terpengaruh pada kejujuran.

Cara mengatasi anak yang suka mencontek dapat dilakukan sebagai berikut:

  1. Jangan bertindak berlebihan,khususnya jika anak anda mengakui perbuatan curang karena kemauannya sendiri.Hadapi dengan sabar dan bijaksana jika anak anda menceritakan kepada anda tentang perbuatannya.
  2. Tanyakan mengapa mereka berbuat itu.Jawabannya akan memberitahukan apa yang harus anda lakukan.Teruslah menyelidiki dengan cara yang baik,dan mendukungnya.
  3. Jika hal tersebut situasional,dia merasa tidak cukup siap untuk menghadapi tes dan merasa takut gagal.Tolonglah dirinya untuk menemukan jalan keluarnya.
  4. Usahakan untuk mendapatkan tutor pada mata pelajaran tertentu,bantulah dirinya belajar.
  5. Mencontek seringkali menjadi jalan singkat atau pemacu dari rasa putus asa.Berilah penjelasan tentang keburukan mencontek.
  6. Jika dia mencontek karena ingin mendapat nilai 100 dari pada nilai 60,telitilah berapa banyak tekanan yang dilakukan oleh orang tua atau dari pihak sekolah pada dirinya. Katakan padanya nilai 60 dapat diterima jika hal itu menggambarkan hasil terbaiknya. Tetapi jika anda mengira anak anda berada dibawah standar dari potensi yang dimilikinya,carilah bimbingan dan informasi dari sekolahnya.
  7. Hindari nasehat dengan khutbah dan hukuman kasar.Jika anak anda ketahuan mencontek,dia sudah siap menerima konsekuensinya.Dia sudah malu dan tahu bahwa dia telah mengecewakan anda. Dihukum atau diejek mungkin akan membawanya ke dalam kebiasaan yang buruk.

Jika anda mengatasi sebuah rasa tidak bersalah secara relatif dan kejadian yang diisolir dengan baik secara cepat ,anda akan menolong untuk melakukan tindakan pencegahan. Perhatikan kebiasaan anda sendiri secara terus menerus kerjakan pekerjaan rumah atau kegiatan lainnya dengan mengatakan bahwa anda tidak meniru pekerjaan orang lain. ( Sumber:Ajaklah anak bicara,Dr.Irwan Prayitno).

TOLOK UKUR KEPUASAN PELANGGAN ANDA

TOLOK UKUR KEPUASAN PELANGGAN ANDA

Kepuasan pelanggan adalah suatu keadaan dimana keinginan, harapan dan kebutuhan pelanggan dipenuhi. Suatu pelayanan dinilai memuaskan bila pelayanan tersebut dapat memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan. Pengukuran kepuasan pelanggan merupakan elemen penting dalam menyediakan pelayanan yang lebih baik, lebih efisien dan lebih efektif. Apabila pelanggan merasa tidak puas terhadap suatu pelayanan yang disediakan, maka pelayanan tersebut dapat dipastikan tidak efektif dan tidak efisien. Hal ini terutama sangat penting bagi pelayanan publik.

Tingkat kepuasan pelanggan terhadap pelayanan merupakan faktor yang penting dalam mengembangkan suatu sistim penyediaan pelayanan yang tanggap terhadap kebutuhan pelanggan, meminimalkan biaya dan waktu serta memaksimalkan dampak pelayanan terhadap populasi sasaran.

Terdapat beberapa cara untuk mengukur kepuasan pelanggan, tetapi makalah ini menguraikan satu cara sederhana yang telah digunakan di subsektor peternakan, perdasarkan penilaian petani terhadap dua isu penting yaitu: (1) tingkat kepentingan pelayanan yang diberikan, and (2) kinerja pemberi pelayanan didalam memberikan pelayanannya.

Makalah ini menggali suatu metodologi yang pernah digunakan untuk menjajagi tingkat kepuasan pelanggan (yaitu petani peternak) terhadap pelayanan yang diberikan terutama oleh petugas pemerintah. Metodologi yang dirancang ini juga dapat dipergunakan bagi sektor pertanian lainnya maupun sektor non-pertanian.

Oleh karena pendekatan partisipatif diperlukan didalam mengumpulkan data, maka sangat direkomendasikan agar enumerator yang akan mengumpulkan data dibekali terlebih dahulu dengan alat-alat PRA (Pemahaman Pedesaan secara Partisipatif).

Pendahuluan
Pengukuran kepuasan pelanggan merupakan elemen penting dalam menyediakan pelayanan yang lebih baik, lebih efisien dan lebih efektif. Apabila pelanggan merasa tidak puas terhadap suatu pelayanan yang disediakan, maka pelayanan tersebut dapat dipastikan tidak efektif dan tidak efisien. Hal ini terutama sangat penting bagi pelayanan publik. Pada kondisi persaingan sempurna, dimana pelanggan mampu untuk memilih di antara beberapa alternatif pelayanan dan memiliki informasi yang memadai, kepuasan pelanggan merupakan satu determinan kunci dari tingkat permintaan pelayanan dan fungsi/operasionalisasi pemasok. Namun bila hanya satu agen, baik pemerintah maupun sektor swasta, yang merupakan penyedia tunggal pelayanan, maka penggunaan kepuasan pelanggan untuk mengukur efektifitas dan efisiensi pelayanan sering tidak kelihatan. Makalah ini menggali suatu metodologi yang pernah digunakan untuk menjajagi tingkat kepuasan pelanggan (petani peternak) terhadap pelayanan yang diberikan terutama oleh petugas pemerintah. Metodologi yang dirancang ini juga dapat dipergunakan bagi sektor pertanian lainnya maupun sektor non-pertanian

Kepuasan pelanggan adalah suatu keadaan dimana keinginan, harapan dan keperluan pelanggan dipenuhi. Suatu pelayanan dinilai memuaskan bila ia dapat memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggannya. Ada beberapa faktor yang dapat dipertimbangkan oleh pelanggan dalam menilai suatu pelayanan, yaitu: ketepatan waktu, dapat dipercaya, kemampuan teknis, diharapkan, berkualitas dan harga yang sepadan.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, pelanggan sendiri yang menilai tingkat kepuasan yang mereka terima dari barang atau jasa spesifik yang diberikan, serta tingkat kepercayaan mereka terhadap kemampuan pemberi pelayanan

Mengapa kita mengukur kepuasanpelanggan?


Tingkat kepuasan pelanggan terhadap pelayanan merupakan faktor yang penting dalam mengembangkan suatu sistim penyediaan pelayanan yang tanggap terhadap kebutuhan pelanggan, meminimalkan biaya dan waktu serta memaksimalkan dampak pelayanan terhadap populasi sasaran.

Dalam rangka mengembangkan suatu mekanisme pemberian pelayanan yang memenuhi kebutuhan, keinginan dan harapan pelanggan, perlu mengetahui hal-hal berikut;

  1. Mengetahui apa yang pelanggan pikirkan tentang anda, pelayanan anda, dan pesaing anda.
  2. Mengukur dan meningkatkan kinerja anda.
  3. Mempergunakan kelebihan anda kedalam pemilahan pasar.
  4. Memanfaatkan kelemahan anda ke dalam peluang pengembangan – sebelum orang lain memulainya.
  5. Membangun wahana komunikasi internal sehingga setiap orang tahu apa yang mereka kerjakan.
  6. Menunjukkan komitmen anda terhadap kualitas dan pelanggan anda
  7. Umpan balik dan informasi merupakan elemen yang penting dalam membangun sistem pemberian pelayanan yang efektif, termasuk: (a) Tingkat kepuasan pelanggan (b) Kualitas pelayanan(c) Bagaimana mengukur kepuasan pelanggan?

Berikut ini adalah langkah-langkah yang telah dilakukan oleh konsultan program DELIVERI didalam mengukur tingkat kepuasan pelanggan terhadap pelayanan peternakan di lokasi proyek.

1. Data yang dikumpulkan

Jenis Pelayanan. Tanyakan kepada Pemberi pelayanan (baca: Petugas Dinas), yang akan diukur tingkat kepuasan pemberian pelayanannya, tentang jenis-jenis pelayanan yang biasa diberikan, siapa yang memberikan pelayanan dan kepada siapa pelayanan tersebut diberikan. Tuliskan setiap jenis pelayanan tersebut karena pelayanan inilah yang akan diukur kinerjanya di dalam memberikan kepuasan terhadap pelanggan

Kinerja Pelayan dan Tingkat Kepentingan Pelayanan. Diskusikan dengan pelanggan tentang:
faktor-faktor yang akan dipergunakan di dalam mengukur kinerja pelayanan, misalnya: tingkat keahlian, ketepatan waktu, kemudahan dihubungi, kemampuan menyelesaikan masalah dan fasilitas yang dimiliki di dalam memberikan pelayanan.
tingkat kepentingan pelayanan.
Minta Pelanggan agar memberikan nilai terhadap kinerja dan tingkat kepentingan pelayanan
2. Bagaimana mengumpulkan data


a. Responden

Respondent dipilih secara acak.


Identifikasi pelanggan yang akan menjadi responden
Lakukan wawancara perorangan menggunakan kuesioner untuk mengukur tingkat kepentingan pelayanan dan kinerja pemberi pelayanan (lihat Lampiran 1).
b. Waktu

Pilih waktu yang tepat bagi pelanggan. Ketahui saat saat sibuk kegiatan usaha tani (saat tanam atau saat panen), sibuk adat dan agama.
Jangan menentukan waktu sendiri, tetapi rundingkan dengan pelanggan kapan waktu luang mereka, sehingga ada kesepakatan. Apakah siang atau malam hari?
Jawaban yang akurat hanya dapat diperoleh bila pelanggan dengan senang hati memberikan informasi.
c. Lokasi

Penentuan lokasi pengukuran kepuasan pelanggan sangat tergantung dari cakupan kajian. Bisa di tingkat kelompok tani, atau desa atau kabupaten.
Untuk cakupan lokasi yang luas lakukan sampling pemilihan lokasi. Pilih lokasi yang representatif. Banyak cara untuk melakukan sampling ini, tetapi itu bukan maksud dari penyusunan manual ini.


3. Metoda analisis

Kompilasikan angka-angka penilaian kepuasan pelanggan terhadap: (a) tingkat kepentingan pelayanan menurut petani, dan (b) kinerja Pelayan di dalam memberikan pelayanan, menurut faktor-faktor yang disepakati untuk diukur, ke dalam sel-sel di dalam Matriks Kepuasan Pelanggan (lihat Lampiran 2).


Baris di dalam matriks menunjukkan tingkat kepentingan, sementara kolom menunjukkan tingkat kinerja Pelayan. Contoh: bila tingkat kepentingan di nilai 4 atau 5, dan kinerja juga dinilai 4 atau 5 maka penilaian ini ditempatkan pada sel-sel berwarna merah (sel-sel pertemuan antara kolom dan baris) di dalam matriks, dan selanjutnya.
Lakukan analisis deskriptif dari setiap jawaban yang terkumpul di masing-masing area pada matriks. Misal: persentase jawaban yang terkumpul pada masing-masing area.
Kumpulan data di setiap sel dapat pula disajikan dalam grafik tiga dimensi seperti diperlihatkan pada Lampiran 3.


4. Survey Baseline dan Survey Lanjutan

Apabila dibutuhkan untuk membandingkan data sebelum dan sesudah proyek – untuk mengukur perubahan di dalam tingkat kepuasan p[elanggan – lakukan beberapa kali survey yang sama. Biasanya, lakukan survey dasar dan survey lanjutan.
Selang waktu antara dua survey tergantung dari tujuan survey dan juga masa proyek. Ini dapat dilakukan terus menerus, secara periodik, atau pada awai dan akhir proyek.
5. Interpretasi


Tingkat kepuasan pelangan didefinisikan dengan parameter-parameter sebagai berikut:

KEPUASAN PELANGGAN TINGGI: persentase responden yang melaporkan tingkat kepentingan pelayanan lebih besar dari 3 (4 atau 5) dan menilai tingkat kinerja pelayanan lebih besar dari 3 (4 atau 5). Pada kondisi ini pelanggan menemukan bahwa kinerja pemberi pelayanan adalah baik didalam memberikan pelayanan yang penting bagi keputusan mereka didalam menentukan produksi.


KEPUASAN PELANGGAN SEDANG: persentase responden yang menilai kepentingan pelayanan adalah sedang sampai tinggi (3, 4 atau 5) tetapi menilai kinerja pemberi pelayanan hanya sedang (3); atau sebaliknya menilai kinerja pelayanan sedang sampai tinggi (3,4 atau 5) tetapi menilai kepentingan hanya sedang (3).


KEPUASAN PELANGGAN RENDAH: persentase responden yang menilai kepentingan pelayanan sedang sampai tinggi (3, 4 or 5) tetapi kinerja pelayanan rendah dan sangat rendah (2 or 1).


PELAYANAN TIDAK EFISIEN: area kunci dari matriks kepuasan pelanggan dari responden yang menilai pelayanan tidak penting (2 atau 1) tetapi kinerja pemberi pelayanannya dinilai sedang sampai sangat baik (3, 4 atau 5). Kategori ini menunjukkan dua kemungkinan skenario yaitu sumberdaya pemerintah dibuang-buang (karena pelayanan yang tidak penting diberikan secara baik) atau program dimana terjadi eksternaliti positif yang tidak dikenal petani.


PELAYANAN ‘TIDAK BERGUNA’: persentase responden yang melaporkan tingkat kepentingan pelayanan rendah atau sangat rendah (2 atau 1) dan kinerja pemberi pelayanannya juga rendah dan sangat rendah (2 atau 1). Pada kondisi seperti ini, lupakan dan tinggalkan saja pelayanan tersebut


6. Analisa Perbandingan

Data kepuasan pelanggan dapat dianalisa berdasarkan setiap pelayanan atau lokasi geografis (kabupaten atau propinsi) atau tingkat kesejahteraan, tergantung dari tingkat kepentingan dan keinginan tim evaluasi


Matriks dapat diaplikasikan untuk data dari pelayanan khusus, misalnya pelayanan khusus lintas area geografis atau antar tingkat kesejahteraan. Juga data dapat diagregasi untuk mengindikasikan keseluruhan kepuasan dari kelompok yang diberikan pelayanan.
Dengan demikian analisis dapat dilakukan untuk membandingkan tingkat kepuasan pelanggan berdasarkan: - Pelayanan ke pelayanan;


- Baseline dan kajian lanjutan;


- Sebelum dan sesudah proyek;


- Kabupaten dengan kabupaten lain;


- Tahun pertama agregasi dengan tahun berikutnya agregasi

Kesimpulan dan rekomendasi


Pengukuran kepuasan pelanggan merupakan elemen penting dalam menyediakan pelayanan yang lebih baik, lebih efisisen dan lebih efektif. Hal ini sangat esensial terutama dalam penyedianan pelayanan publik. Dengan menggunakan metode yang sederhana –dikembangkan oleh DELIVERI- tingkat kepuasan pelanggan di subsektor peternakan, berdasarkan penilaian petani terhadap dua isu penting: (1) Tingkat kepentingan pelayanan yang disediakan, dan (2) Kinerja pemberi pelayanan, telah berhasil dianalisis.

Metodologi yang dikembangkan ini dapat juga dipergunakan pada pelayanan sektor pertanian lainnya dan juga untuk sektor-sektor di luar pertanian. Oleh karena pendekatan partisipatif diperlukan didalam mengumpulkan data, maka sangat direkomendasikan agar enumerator yang akan mengumpulkan data dibekali terlebih dahulu dengan alat-alat PRA (Pemahaman Pedesaan secara Partisipatif).

KEHIDUPAN SETELAH MATI